Menpar Arief Yahya | Foto: Ist

Tahun 2019, Sektor Pariwisata Jadi Penghasil Devisa Terbesar Indonesia

30 Oktober 2017

Moneter.co.id - Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya menyatakan sektor pariwisata Indonesia diproyeksi menjadi penghasil devisa terbesar pada 2019 dengan nilai mencapai 24 miliar dolar AS melampaui sektor migas dan minyak kelapa sawit (CPO).

Menpar menjelaskan berdasarkan riset World Bank, pariwisata menjadi salah satu bisnis utama core business Indonesia karena menjadi penyumbang PDB, devisa serta lapangan kerja paling mudah dan murah.

"Tahun 2019 pariwisata diproyeksikan penghasil devisa terbesar yaitu 24 miliar dolar AS melampaui sektor migas, batubara dan minyak kelapa sawit. Bukan hanya penghasil devisa terbesar biasa, tetapi terbesar dan terbaik di regional bahkan global," kata Arief.

Menpar Arief menjelaskan perolehan devisa sektor pariwisata pada 2013-2015 menempati peringkat empat setelah migas, batubara dan CPO. Namun pada 2016, devisa pariwisata menempati peringkat kedua setelah CPO dengan nilai 13,5 miliar dolar AS.

"Pesaing utama pariwisata Indonesia adalah Thailand dengan devisa pariwisata lebih dari 40 miliar dolar AS sedangkan negara lainnya relatif dapat dilampaui," ujarnya.

Perusahaan media di Inggris, The Telegraph mencatat Indonesia menjadi salah satu dari 20 negara dengan pertumbuhan paling cepat di sektor pariwisata. Pertumbuhan pariwisata Indonesia dinilai empat kali lebih tinggi dibanding pertumbuhan regional dan global.

Adapun pertumbuhan pariwisata Indonesia dalam beberapa tahun terakhir mencapai 25,68 persen, sedangkan industri plesiran di kawasan ASEAN hanya tumbuh 7 persen dan di dunia hanya 6 persen.

Saat ini Kementerian Pariwisata tengah menciptakan 10 "Bali Baru" dengan destinasi di Danau Tiba, Tanjung Kelayang, Borobudur, Wakatobi, Morotai, Tanjung Lesung, Kepulauan Seribu, Bromo Tengger Semeru, Mandalika dan Labuan Bajo.

Selain itu, lanjut Arief, target sertifikasi 500 ribu SDM Kepariwisataan akan dicapai pada 2019. "Hingga 3017, tercatat sudah ada 300 ribu tenaga kerja yang sudah disertifikasi," pungkasnya


(Pras)


TERKINI