Foto: Ist

Industri RI Berkontribusi Kuatkan Kemitraan Ekonomi ASEAN dan Eropa

07 Desember 2017

Moneter.co.id - Negara ASEAN dan Eropa merupakan mitra strategis bagi Indonesia guna membangun perekonomian yang saling menguntungkan. Salah satu langkah yang perlu ditempuh untuk menguatkan hubungan tersebut, yakni melalui percepatan dalam perundingan Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif (Comprehensive Economic Partnership Agreement/CEPA) kedua belah pihak.

“Untuk itu, kami mendorong agar industri Indonesia bisa terintegrasi pada value chain di tingkat Asean, terutama di sektor yang potensial seperti otomotif, elektronika, serta makanan dan minuman,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto seusai bertemu dengan Chairman Europe Asean Business Alliance (EABA), Geoff Donald beserta delegasi di Kementerian Perindustrian, Jakarta, Kamis (7/12).

Menperin menyampaikan, pelaksanaan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) menjadi momentum penting bagi negara-negara di Asia Tenggara untuk semakin meningkatkan kerja sama ekonomi khususnya sektor industri agar bisa saling melengkapi satu sama lain. Apalagi ketiga sektor industri tersebut tengah dipacu daya saingnya oleh sejumlah negara karena saat ini dinilai siap menerapkan sistem Industry 4.0.

“Kami meyakini Asean akan menjadi kawasan yang mampu memimpin sebagai future of production, dengan basis internet of everything sabagai infrastruktur utamanya,” ungkap Airlangga.

Hal ini lantaran Asean memiliki potensi pada pertumbuhan ekonomi yang cukup stabil. “Selain itu, didukung dengan populasi penduduk usia muda, kelas menengah yang tumbuh, infrastruktur digitalnya berkembang, transformasi industri kecil dan menengah ke arah digital, serta konektivitas antarmanusia,” imbuhnya.

Airlangga menyebutkan, ketiga sektor industri nasional seperti otomotif, elektronika, serta makanan dan minuman telah memiliki keunggulan yang kompetitif di kancah global. Oleh karenanya, terus didorong untuk memperluas pasar ekspor. “Apalagi, industri makanan dan minuman sangat banyak di dalam negeri, mulai dari tingkat kabupaten, bahkan sudah ada yang go international,” ujarnya.

Di tengah perkembangan era digital, industri elektronika lokal juga berpeluang tumbuh. “Sedangkan, di sektor otomotif, selain kita punya domestik market yang kuat, Indonesia telah menjadi basis produksi dari beberapa perusahaan otomotif dunia,” tutur Airlangga.

Di samping itu, Kemenperin juga mendorong tiga produk unggulan Indonesia agar lebih memperluas pasar ekspor di Uni Eropa, yaitu pakaian, tekstil, dan sepatu. Ketiga produk industri tersebut masih dikenakan bea masuk oleh Uni Eropa sebesar 12 persen, sedangkan minyak kelapa sawit nol persen, kecuali beberapa produk turunannya yang terkena bea masuk sekitar 10 persen.

Menperin berharap, dengan adanya pembebasan bea masuk, menjadi peluang besar bagi industri Indonesia semakin berdaya saing. Untuk itu, Indonesia tengah melakukan negosiasi dengan Uni Eropa terkait perdagangan dan investasi kedua belah pihak melalui IEU CEPA.

Sementara, Dirjen Ketahanan dan Pengembangan Akses Industri Internasional (KPAII) I Gusti Putu Suryawirawan menjelaskan, dalam pertemuan tersebut, delegasi EABA yang terdiri dari para pelaku industri sangat berharap kepada pemerintah Indonesia dapat menjamin ketersediaan bahan baku untuk mendukung proses produksi yang berkelanjutan.

“Mereka ingin investasinya bisa berjalan lancar di Indonesia, sehingga diharapkan tidak ada perubahan peraturan yang menyulitkan. Mereka yang hadir, terdiri dari sektor industri berbasis agro, peralatan kesehatan, dan lain sebagainya,” ungkapnya.

Beberapa perwakilan perusahaan yang datang dalam delegasi EABA, antara lain Roche Asia Pacific, PT. Roche Indonesia, Novartis, Danone, Friesland Campina, ABN Amro, ZUELLIG Pharma, serta Vriens & Partners.

Putu menegaskan, pemerintah Indonesia berkomitmen untuk terus menciptakan iklim investasi yang kondusif melalui beragam langkah strategis seperti penerbitan sejumlah paket kebijakan ekonomi dan deregulasi. Upaya ini guna mempermudah pelaku usaha menjalankan bisnisnya di Tanah Air.

Selanjutnya, dalam upaya menarik investor dan menguatkan daya saing industri nasional, Kemenperin pun tengah mengajukan suatu skema baru terhadap pemberian insentif fiskal. Fasilitas pengurangan pajak ini akan diterima industri yang berkomitmen melakukan pengembangan pendidikan vokasi dan inovasi.

Bagi industri yang melaksanakan program vokasi, akan mendapat insentif pajak 200 persen. Sementara, industri yang membangun inovasi akan mendapat insentif pajak 300 persen. Bahkan, Kemenperin juga tengah gencar melaksanakan program pendidikan dan pelatihan vokasi untuk menciptakan tenaga kerja yang kompeten sesuai kebutuhan industri saat ini.

Di bidang investasi nonmigas, Uni Eropa menjadi penanam modal terbesar ke-4 di Indonesia setelah Singapura, Jepang, dan Tiongkok pada tahun 2016, dengan nilai investasi mencapai USD2,6 miliar atau naik dibanding tahun sebelumnya sebesar USD2,26 miliar.  (HAP)


TERKINI