Foto: Ist

Sinar Mas Agribusiness and Food Gelar SMART SEED III

07 Desember 2017

Moneter.co.id - Sinar Mas Agribusiness and Food, anak usaha dari Golden Agri-Resources (GAR) menyelenggarakan SMART SEED III (Social and Environmental Excellence Development) di Hotel Pullman, Jakarta, Kamis (07/12)

Acara ini ditujukan untuk para pemasok independen yang bertujuan menggarisbawahi pentingnya manfaat ekonomi dan sosial dari kemamputelusuran dan praktik perburuhan yang adil, juga untuk mengeksplorasi berbagai praktik terbaik dalam pelaksanaan serta bagaimana mengatasi tantangan yang ada.

Hadir sebagai pembicara dari berbagai perusahaan agribisnis terkemuka, asosiasi industri, badan pemerintah dan lembaga multilateral seperti IDH, Agricinal, SNV, Neste, Kementerian Ketenagakerjaan RI, KSPSI ILO, GAPKI, Cargil, dan perwakilan dari Sinar Mas Agribusiness and Food, berbagi keahlian mereka kepada 200 peserta pada dua sesi diskusi panel.

Pelatihan ini juga mempersiapkan para pemasok untuk mengikuti program Traceablity to Plantation (TTP) yang diadakan oleh Sinar Mas Agribusiness and Food, serta memberikan pelatihan cara meningkatkan praktik perburuhan di industri ini.

Direktur Sinar Mas Agribusiness and Food, Dr. Ing. Gianto Widjaja, mengatakan, kami harapkan acara ini tidak sekadar menggagas wacana, melainkan juga menjadi peluang para pihak untuk menjalin kerjasama, berbagi cerita tentang keberhasilan dalam penerapan prinsip sawit berkelanjutan di lapangan dan bersama-sama mencari jalan keluar atas beberapa permasalahan yang di hadapi sektor perkebunan sawit.

Sebagai pelaku bisnis, kami juga membutuhkan usulan, arahan dan rekomendasi dari stakeholder, agar sektor sawit menjadi lebih baik, semakin matang dan bertanggungjawab dalam berbagai aspek pengelolaan lingkungan, memberi sumbangsih nyata pada peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya, serta perekonomian Indonesia secara keseluruhan, ujarnya disiaran persnya, Kamis (07/12)

Sementara Managing Director Sustainability and Strategic Stakeholder Engagement Golden Agri-Resources Agus Purnomo,  mengatakan membutuhkan usaha dan waktu yang intens, namun kami berupaya mempermudah hal ini dalam prosesnya dan memberi panduan praktis kepada pemasok kami.

“Kami akan membantu mereka mengatasi tantangan yang muncul pada proses ini, dan mendukung mereka dalam menerapkan praktik yang berkelanjutan."

Saat ini, lanjut Agus, GAR sedang dalam perjalanannya untuk mencapai 100 persen kemamputelusuran pada perkebunan untuk pemasok independen pada tahun 2020.

Dr. Widjaja juga menegaskan kembali komitmen perusahaan untuk memperkuat hak-hak pekerja, yang merupakan komponen utama dari GAR Social and Environmental Policy (GSEP) atau Kebijakan Sosial dan Lingkungan GAR (KSLG) yang diluncurkan pada tahun 2015.

Ia mendorong para pemasok untuk melakukan hal yang sama, dengan menghindari eksploitasi tenaga kerja, menciptakan lingkungan kerja yang sehat, serta membangun hubungan industrial yang harmonis dengan para pekerja.

Sumondang, Kepala Sub Direktorat, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia, menegaskan pemenuhan hak-hak pekerja memperkuat hubungan antara perusahaan dan karyawannya, hal ini memberikan dampak positif pada produk minyak sawit yang dijual di dalam dan luar negeri.

“Berkat kemajuan sosial dan lingkungan yang signifikan yang dilakukan oleh perusahaan perkebunan terbesar di negara ini, minyak sawit telah menjadi salah satu produk ekspor unggulan Indonesia,” ujarnya.

Sumondang menekankan bahwa pemerintah sudah memberikan kemudahan bagi perusahaan, untuk itu, perusahaan diharapkan untuk dapat memenuhi hak dan kewajibannya sesuai dengan undang-undang ketenagakerjaan.

Selain para pemasok, pelatihan ini juga dihadiri oleh Neste, sebagai perwakilan dari pihak pelanggan, serta organisasi multilateral Indonesia dan internasional, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) seperti World Wildlife Fund, Aidenvironment, PKPA, Koltiva, Daemeter, Geotraceability, TFT, SPSI, CNV, SNV, dan IDH.

Pelatihan SMART SEED secara berkala diadakan untuk terus meningkatkan praktik sosial dan lingkungan dalam produksi kelapa sawit melalui keterlibatan aktif para pemasok. Keberhasilan dari program ini dapat dilihat dari pelatihan sebelumnya yang telah membantu para petani mandiri untuk belajar dan memperoleh sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil certification (ISPO), serta mendapatkan akses untuk Pendanaan Inovatif (Innovative Financing) dari Pemerintah Indonesia dan KADIN.

Pelatihan ini juga didukung oleh kunjungan lapangan secara reguler ke pemasok untuk menangani masalah secara individual, pelatihan khusus, dan saluran bantuan khusus untuk pemasok. (SAM)


TERKINI