Foto: Ist

Kemenperin: Prioritaskan Lima Sektor Industri Untuk Hadapi Industry 4.0

22 Maret 2018

Moneter.co.id - Kementerian Perindustrian dalam menghadapi era digital saat ini, telah menyusun roadmap (peta jalan) Industry 4.0 dengan menetapkan lima sektor manufaktur yang akan menjadi percontohan dan prioritas dalam pengembangannya. Hal ini selaras dengan Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) yang diatur dalam Peraturan Pemerintah No.14 Tahun 2015.

“Kelima sektor tersebut adalah industri makanan dan minuman, otomotif, elektronika, tekstil, dan kimia. Jadi lima sektor industri ini yang akan fokus dikembangkan oleh pemerintah dalam menghadapi era digital yang perkembangannya sangat cepat,” kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Ngakan Timur Antara di Jakarta, Kamis (22/3).

Ngakan menjelaskan, kelima sektor industri yang diunggulkan untuk memasuki Industry 4.0 tersebut, selama ini berkontribusi besar terhadap perekonomian nasional. Misalnya, industri makanan dan minuman yang memiliki pangsa pasar dengan pertumbuhan mencapai 9,23% pada tahun 2017. Selain itu, menjadi penyumbang terbesar dalam PDB industri nonmigas hingga 34,33% tahun 2017.

“Peranan industri makanan dan minuman juga tampak dari sumbangan nilai ekspor produknya, termasuk minyak kelapa sawit yang mencapai USD31,7 miliar pada tahun 2017 dan mengalami neraca perdagangan surplus bila dibandingkan dengan nilai impornya sebesar USD9,6 miliar,” papar Ngakan.

Guna mempercepat pertumbuhan kelima sektor industri tersebut, lanjutnya, berbagai teknologi pendukung Industry 4.0 seperti Internet of Things (IoT), advance robotic, artificial intelligence, dan additive manufacturing akan diimplementasikan.

“Tujuannya adalah untuk mencapai peningkatan produktivitas dan efisiensi yang tinggi serta kualitas produk yang lebih baik melalui pemanfaatan teknologi terkini secara optimal,” ujar Ngakan.

Kemenperin mencatat, industri manufaktur terus berperan sebagai penopang utama dalam memacu pertumbuhan ekonomi nasional. Contohnya, kontribusi terhadap nilai ekspor Indonesia sebesar 74,10% dan menyerap tenaga kerja lebih dari 17 juta orang atau 14,05% dari tenaga kerja di sektor ekonomi.

Selain itu, industri berkontribusi terhadap penerimaan negara sebesar Rp335 triliun melalui pajak penghasilan nonmigas dan penerimaan cukai. Sementara, dilihat dari neraca perdagangan nonmigas Januari 2018, tercatat Indonesia mengalami surplus sebesar USD182,6 juta, di mana ekspor nonmigas mencapai USD13,16 miliar dan impornya sekitar USD12,98 miliar.

Bahkan, industri manufaktur mampu memberikan kontribusi sebesar 22% terhadap PDB nasional. Dengan nilai tersebut, Indonesia menempati peringkat keempat dunia dari 15 negara yang kontribusi industri manufaktur terhadap PDB-nya di atas 10%.

Kontribusi manufaktur Indonesia tersebut, tertinggi di ASEAN. Apabila dilihat dari sisi nilai tambah manufaktur, posisi Indonesia di dunia terus melesat dari peringkat ke-11 tahun 2015, menjadi posisi ke-9 tahun 2016 melampaui Inggris dan Kanada. Capaian ini menunjukkan sektor industri manufaktur terus mengalami pertumbuhan yang positif.

(TOP)


TERKINI