Ilustrasi

RUPST Adhi Karya, Bidik Bisnis Pengolahan Limbah Migas Rp 176 Triliun

14 April 2018

Moneter.co.id - Hasil Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST), Jumat (13/4), PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) menyetujui rencana ekspansi bisnis ke bidang pengolahan limbah sektor minyak dan gas (migas). Sektor ini dinilai memiliki potensi hingga Rp176 triliun.

 “Jadi memang kami mengusulkan penambahan Sertifikat Badan Usaha (SBU) ini terkait beberapa peluang ke depan ini yang sangat besar di pengolahan limbah," kata Direktur Operasi I PT Adhi Karya Budi Saddewa Soediro di Kantor Adhi Karya, Jumat (13/4).

Budi menyatakan, potensi di bisnis ini sangat besar. Hal ini mengingat banyaknya konsensi perusahan minyak dan gas di Indonesia yang berakhir.

“Di antaranya Chevron di Kalimantan konsensinya berakhir tahun ini, terlebih di Blok Mahakam sudha berakhir 2017 lalu. Ada juga yang berakhir di tahun 2022-2023 seperti Petrochina, Conocco Philips, British Petroleum,” ujarnya.

Sementara, berdasarkan UU No 22 Tahun 2001 tentang minyak dan gas bumi pasal 40 ayat 3 pengelolaan lingkungan hidup berupa kewajiban untuk melakukan pencegahan dan penanggulangan pencemaran serta pemulihan atas terjadinya kerusakan lingkungan hidup, termasuk kewajiban pascaoperasi pertambangan.

Dengan demikian, perusahaan-perusahaan yang mendapat kontrak karya terkait dengan operasi tambang yang sudah berhasil harus melakukan pemulihan lingkungan. Hal ini menjadi sasaran bisnis baru perusahaan berplat merah ini.

“Potensinya sangat besar kalau kita hitung berdasarkan luasan yang tercemar maka tercatat 800 area tercemar, dengan luas 170 km2. Volume yang telah teridentifikasi sebesar 7 juta m3- 8 juta m3,” jelas dia.

Menurut perhitungannya, potensi bisnis ini mencapai Rp176 triliun. "Potensinya secara keseluruhan bisa mencapai Rp176 triliun. Sekarang ini sudah jatuh tempo sekitar Rp 8,6 triliun,” ungkapnya.

Budi mengaku, perusahaan telah membidik sebagian area tersebut, namun Budi enggan merincinya. Adhi Karya sendiri akan bekerjasama dengan laboratorium milik Institut Teknologi Bandung (ITB) dalam bisnis ini. Selain itu, saat ini perseroan masih akan meninjau tingkat teknologi yang dibutuhkannya.

Menurutnya, tak banyak perusahaan yang terjun dalam bisnis ini sehingga menjadi peluang bagi Adhi Karya. "Saya rasa belum banyak yang menggarap ini. Harapan kami bisa masuk proyek ini, sudah diusulkan tadi dan disetujui (dalam RUPST),” tutup Budi.

 

(HAP)


TERKINI