Ilustrasi

OJK: Hingga April 2018, Baru 44 Perusahaan Fintech yang Terdaftar

16 April 2018

Moneter.co.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat hingga April 2018, jumlah perusahaan teknologi berbasis layanan keuangan atau financial technology (fintech) berskema bisnis pinjam meminjam (peer to peer/P2P lending) yang telah terdaftar baru sebanyak 44 perusahaan.

Deputi Komisioner OJK Institute OJK Sukarela Batunanggar menyebutkan jumlah tersebut meningkat dari posisi Januari 2018, dimana baru 36 fintech P2P lending yang terdaftar saat itu.

"Berdasarkan statistik fintech P2P per 10 April 2018 tercatat 44 fintech telah terdaftar, terdiri dari 43 fintech P2P konvensional dan satu fintech P2P syariah," ujarnya beberapa hari lalu.

Sukarela menjelaskan, jumlah fintech P2P Lending sekitar 120 perusahaan. Artinya, masih ada sekitar 76 perusahaan yang belum terdaftar. “Beberapa di antaranya tengah mengajukan pendaftaran dan telah menyatakan berminat mendaftar,” ucapnya.

Sementara, Wakil Ketua Bidang Jasa Keuangan Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech) Adrian Gunadi menyebut saat ini ada sekitar 135 fintech yang terdaftar di asosiasi dari berbagai skema bisnis. 

Mulai dari bisnis pembayaran (payment), pinjam meminjam (P2P lending), pasar modal (capital market), asuransi (insurance), hingga perusahaan pemberi layanan perencanaan keuangan dan platform perdagangan elektronik (robo advisor). "Sebanyak 60% di antaranya merupakan fintech payment dan P2P lending," kata Adrian.

Menurut Adrian, kehadiran fintech terus bertambah dari waktu ke waktu lantaran dukungan dari kebutuhan pasar dan inovasi serta teknologi yang terus berkembang.

Dari sisi kebutuhan pasar, masyarakat dilihat masih berjarak (gap) dengan akses keuangan dari perbankan, sehingga membutuhkan lembaga baru untuk mendapatkan akses tersebut. Lalu, ada kebutuhan yang meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah populasi dan bonus demografi yang dimiliki Indonesia.

Kemudian, masyarakat juga membutuhkan layanan keuangan yang berbasis internet, seiring dengan meningkatnya penggunaan perangkat komunikasi dan internet pada mayoritas masyarakat Indonesia. "Hal-hal ini yang memberi dukungan pada perkembangan fintech di Indonesia," pungkas Adrian.

 

(HAP)


TERKINI