Ilustrasi | Foto: Ist

Dari Laba Bersih 2017, Timah Bakal Bagikan Dividen 35 persen

17 April 2018

Moneter.co.id - Berdasarkan hasil rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST), PT Timah Tbk (TINS) memutuskan akan membagikan deviden tunai sebanyak 35% dari laba bersih tahun 2017 sebesar Rp 502 miliar.

“Deviden ini kita bagikan sekitar Rp 175 miliar supaya kami semakin berkembang seperti menambah peralatan," kata Direktur Utama TINS, Mochtar Riza Pahlevi Tabrani di Jakarta, Senin (16/4).

Menurut Riza, pembagian deviden ini atas usulan perusahaan dan bukan dari kepala holding BUMN industri pertambangan yaitu PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum).

Seperti diketahui, Inalum memang membutuhkan dana untuk mengambil participating interest (PI) 40% milik Rio Tinto di tambang Grasberg, Papua dalam konsesi lahan PT Freeport Indonesia (PTFI) untuk memenuhi divestasi saham 51%. “Kalau itu menjadi urusan Inalum, enggak bisa ikut campur. Kalau kami untuk pengembangan perusahaan saja," imbuhnya.

Sekedar informasi, sudah tiga tahun berturut-turut, TINS menebar dividen kepada pemegang saham. Contohnya, dividen pada 2017 sebesar Rp 75,54 miliar atau sekitar 30% dari total laba bersih 2016.

Berdasarkan laporan keuangan 2017, Timah mengantongi pendapatan Rp 9,22 triliun. Sementara, perolehan laba bersih naik 100,30% secara tahunan menjadi Rp 502,43 miliar.

Tahun ini, TINS menargetkan penjualan timah dan produk turunannya naik 22% secara tahunan. Realisasi penjualan pada tahun lalu sebesar 29.914 ton. Manajemen memproyeksikan pendapatan akan tumbuh 10% hingga 12% secara tahunan. Diperkirakan, pendapatan TINS tahun ini akan menuju Rp 10,14 triliun hingga Rp 10,32 triliun.

Riza menambahkan bahwa peningkatan kinerja keuangan seiring dengan strategi yang telah disusun perseroan. Salah satunya dengan alokasi belanja modal Rp 779,81 miliar untuk meningkatkan kapasitas produksi.

”Strategi telah dilaksanakan dengan konsisten, hal ini dapat dilihat dari peningkatan kinerja keuangan maupun kinerja operasi,” ungkapnya.

Guna memenuhi target penjualan tahun ini, perseroan terus meningkatkan eksistensi di pasar internasional, sehingga dapat menjadi inspirasi bagi Indonesia dan bahkan dunia sebagai perusahaan pertambangan yang mampu menjadi pemain global.

”PT Timah akan tetap eksis dan terus ada di wilayah operasionalnya di Kepulauan Bangka Belitung, Riau, dan Kepulauan Riau, serta terus berkontribusi membangun dan menjadi kebanggaan Indonesia," ujar Riza.

Riza menjelaskan, saat ini eksistensi PT Timah cukup diakui pasar timah dunia. Pasalnya, perseroan menjadi perusahaan penghasil timah terbesar kedua di dunia setelah China. Kinerja PT Timah juga semakin membaik berkat dukungan pemerintah daerah dan masyarakat.

Sementara Direktur Keuangan PT Timah, Emil Ermindra mengatakan, meski kinerja perusahaan semakin membaik, namun pada triwulan pertama 2018 perusahaan masih menghadapi kendala cuaca dan peraturan ekspor.”Hingga Maret 2018 perusahaan memperoleh laba positif. Namun ada dua kendala yang dihadapi yakni curah hujan yang masih cukup tinggi," paparnya.

Selain itu adanya perubahan peraturan ekspor dari pemerintah. Namun kinerja masih sangat positif walaupun masih di bawah target.”Kita tetap optimistis target tahun ini akan tercapai dengan baik sesuai target yang ditetapkan," katanya.

 

(HAP)


TERKINI