Salah satu tempat rekreasi di Ancol

PT Pembangunan Jaya Ancol Incar Laba Bersih Naik 25 Persen di Tahun 2018

15 Mei 2018

Moneter.co.id - Pengelola kawasan properti dan rekreasi Ancol Taman Impian, PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk, segera akan merealisasikan beberapa inovasi yang sudah dimulai sejak 2017 dan fokus mengembangkan segmen properti dan rekreasi di tahun 2018.

“Harapannya pertumbuhan revenue di 2018 bisa mencapai 10% dengan perolehan bottom line atau laba bersih di kisaran 24-25%,” kata Teuku Sahir Syahali, Wakil Direktur Utama PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk di Jakarta, Senin (14/5).

Sepanjang 2017 pendapatan Jaya Ancol alami penurunan sebesar 3,48%, dari Rp1,28 triliun pada tahun 2016 menjadi Rp1,24 triliun. Namun Perseroan berhasil meningkatkan laba cukup tinggi yaitu sebesar 68,33%, dari Rp130,82 miliar di tahun 2016 menjadi Rp220,22 miliar di tahun 2017.

Beberapa hal yang mendukung antara lain adalah peningkatan pertumbuhan pengunjung di tahun 2017 sebesar 3,47% dari 18,1 juta di tahun 2016 menjadi 18,7 juta di 2017.

Selain itu, kenaikan laba ini juga disebabkan oleh beban lain-lain yang turun 79% dibanding tahun sebelumnya. Pada 2017, segmen rekreasi membukukan pendapatan sebesar Rp1.152 miliar, naik 5% dari 2016 yang sebesar Rp1.096 miliar. Rekreasi juga masih menjadi tulang punggung bisnis perseroan dengan mendominasi sebesar 92% dari total pendapatan perseroan.

”Wahana Dufan dan Atlantis di 2018 diharapkan bisa tumbuh 10% pendapatannya. Tahun lalu kita Dufan dan Atlantis sumbang pendapatan Rp 1,1 triliun. Jadi tahun ini harus tumbuh 10% dari itu,” ungkap Sahir.

Sementara, Direktur Utama PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk, C. Paul Tehusijarana menjelaskan, perseroan optimis dengan pertumbuhan tersebut karena beberapa inovasi 2017 yang akan dioperasikan tahun ini.Antara lain pembukaan restoran pertama perseroan yaitu Kafe Hoax di pantai Lagoon, penambahan dua seluncuran baru di Atlantis Water Adventure dan juga pencanangan konsep baru pulau Bidadari yaitu The Soul of Batavia.

Di segmen rekreasi, perseroan menargetkan dapat meluncurkan wahana baru yaitu Star Shape, Dream Station, Wave Swinger, New 4D Theater, penambahan jalur kereta wisata Sato-sato, revitalisasi Pasar Seni Ancol dan juga pengembangan Seaworld Ancol.

“Kami telah merenovasi Pulau Bidadari sejak April 2017, nanti sebelum Lebaran 2018 sudah bisa diluncurkan. Kita juga akan kembangkan Pulau Kayu Angin Melintang, airnya bagus untuk snorkeling dan diving, karena ada terumbu karang yang cantik," ungkap Paul.

Untuk menunjang pertumbuhan 2018 tersebut, dari segmen properti, Paul menjelaskan bahwa Perseroan secara resmi juga telah menjalin kerjasama dengan salah satu perusahaan pengembang asal Australia dalam mengembangkan kawasan hunian vertikal mewah di area Ancol Barat dengan mengusung konsep water front living.

Sementara aktivitas renovasi yang dilaksanakan antara lain renovasi Putri Duyung Ancol. “Kami menargetkan dapat menyelesaikan pembangunan Coasta Villa Tahap 3, kalau sudah bisa terjual yang 40 unit, nanti kami bangun. Kita juga memulai pemasaran untuk produk Ocean Breeze serta dapat segera memulai kerjasama operasional pada pengembangan area Ancol Barat. Lahannya milik anak usaha, nanti Ancol yang mengoperasikan sendiri. Ini diharapkan bisa dorong revenue,”  jelas Paul.

Tahun ini, lanjutnya, perseroan menganggarkan belanja modal atau capital expenditure (capex) senilai Rp 950 miliar. Realiasi capex 2017 sendiri berada di angka Rp 330 miliar, dari rencana awal senilai Rp 1 triliun.

Dukungan capex salah satunya berasal dari internal perseroan, antara lain dari laba ditahan dari tahun buku 2017 yang mencapai sekitar Rp 132 miliar (62,22% dari laba 2017).

Sementara itu, sebagian laba dibagikan sebagai deviden yakni Rp 52 per lembar saham atau sekira Rp 83,1 miliar (37,7% dari laba 2017).

 

(HAP)


TERKINI